Baca Berita

Hakikat Hari Suci Kuningan serta Filosofi Sarana Upakara

Oleh : rpkd | 07 Juni 2018 | Dibaca : 194 Pengunjung

  • Hari Raya Kuningan adalah salah satu rangkaian Hari Suci Galungan, tepat 10 hari setelah perayaan Galungan, yaitu pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan.
    I Made Arsa Wiguna salah seorang tokoh agama menjelaskan bahwa secara harfiah Kata Kuningan memiliki makna “kauningan” yang artinya mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari adharma segala sesuatu yang tidak baik. "Kauningan" juga diartikan sebagai pemberitahuan/nguningang baik kepada diri sendiri, maupun kepada Ida Sanghyang Parama Kawi, bahwa dalam kehidupan kita akan selalu berusaha memenangkan dharma dan mengalahkan adharma (antara lain bhuta dungulan, bhuta galungan dan bhuta amangkurat). Pada Hari Raya Kuningan sesungguhnya banyak keunikan yang istimewa yang sarat akan makna, sehingga sebagai umat hindu yang intelek seharusnya selalu berusaha menggali secara filosofis.
    Seperti misalnya upakara sesajen yang berisi simbul tamiang yang memiliki makna perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam. Selain tamiang, juga terdapat endongan maknanya adalah perbekalan. Bekal yang paling utama dalam mengarungi kehidupan adalah ilmu pengetahuan dan bhakti (jnana). Sementara senjata yang paling ampuh adalah ketenangan pikiran. Serta masih banyak sesaji istimewa yang dipersembahkan seperti sampian gantung dan ter demikian pula di masing-masing daerah yang memiliki sarana dalam bentuk beragam untuk mewujudkan sujud bhakti kepada Hyang Parama Kawi.

    I Made Arsa Wiguna juga menjelaskan Keistimewaan pada Hari Raya Kuningan, Ida Sanghyang Widhi Wasa memberkahi dunia dan umat manusia sejak jam 00 sampai jam 12. Jadi di saat itu sangat tepat momentnya untuk menyerahkan diri kepada-Nya mohon perlindungan, karena energi alam semesta (panca mahabhuta : pertiwi, apah, bayu, teja, akasa) bangkit dari pagi hingga mencapai klimaksnya di Tajeg Surya (tengah hari). Setelah lewat bajeg surya disebut masa pralina (pengembalian ke asalnya) atau juga dapat dikatakan pada masa itu energi alam semesta akan menurun dan pada saat sanghyang surya mesineb (malam hari) adalah saatnya beristirahat (tamasika kala).
  • Di beberapa daerah di Bali pada Hari Raya Kuningan juga ada tradisi membuat nasi kuning sebagai lambang kemakmuran dan dihaturkan sesajen-sesajen sebagai tanda syukur terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia  menerima anugerah dari Sang Hyang Widhi. Sehingga melalui perayaan Hari Raya Kuningan kita diingatkan untuk sadar menyamabraya, meningkatkan persatuan dan solidaritas sosial, dan umat diharapkan selalu ingat kepada lingkungan sehingga tercipta keseimbangan alam semesta serta tidak lupa bersyukur kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa (*erd).


Oleh : rpkd | 07 Juni 2018 | Dibaca : 194 Pengunjung


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya :

 



Foto
Perkenalan Miss Internet Bali 2015
Video
Vidclip Iklan Radio TV
Facebook
Twitter